Losmen dan Penginapan Termurah di Sosrowijayan, Yogyakarta

Daerah Sosrowijayan terkenal sebagai kampungnya penginapan di Jogja, terutama untuk losmen dan homestay. Perjalanan kami mulai dari pintu masuk Sosrowijayan, menyusuri penggal jalan Malioboro, dan masuk ke ruas jalan utama Sosrowijayan. Kalau di jalan utamanya, yang ada hotel-hotel dan penginapan dengan harga 300ribu ke atas per malam. Bukan ini yang kami cari, melainkan penginapan yang berharga kurang dari 100ribu semalam. Apa benar masih ada?
Beberapa meter dari jalan Sosrowijayan, ada sebuah gang yang sangat sempit, saking sempitnya mungkin tidak cukup untuk dua motor berpapasan. Perjalanan kami teruskan masuk ke mulut gang-gang yang sempit, yang di ujung gangnya ada tulisan, "motor dituntun". Otomatis kami harus menuntun motor selama kami berada di dalam kampung ini. 
Kampung Sosrowijayan juga dapat di akses dari stasiun Tugu, pada sisi sebelah selatan. Hati-hati jangan salah masuk, bisa-bisa kita malah masuk gang di sisi sebelahnya, yang menawarkan wisata yang "lain", yaitu gang "Sarkem", atau "Pasar Kembang", sebuah distrik "lampu merah" di area pusat kota Yogyakarta. 

Review Penginapan Termurah
Losmen dan penginapan murah bertaburan di sisi kanan dan kiri gang di sosrowijayan. Beberapa yang terkenal antara lain Losmen 105, atau Losmen Superman. Ya, daerah ini memang terkenal sebagai kampungnya backpacker dan turis "kere", sebutan bagi wisatawan yang tidak berkantong tebal, alias kantongnya pas-pasan. Selain beberapa turis mancanegara, wisatawan lokal juga banyak yang menginap di sini.
Kami masuk dan mencoba untuk bertanya secara acak, random, pada tiga penginapan dan losmen yang ada di situ. Rata-rata tarif yang ditawarkan untuk kamar dengan AC dan kamar mandi dalam adalah Rp. 300.000 sampai Rp. 225.000/malam, kamarnya secara overal bersih, tapi dengan kondisi interior se-adanya (bahasa Jawanya, opo anane). Tempat tidur old-fashioned (kalau tidak mau disebut "kuno/jadul"), dengan kamar mandi yang agak bau pesing-pesing gimanaa gitu, plus keramik jaman:"Dono", sebutan untuk keramik tahun 80-an (tahun 80-an era Dono, Kasino, dan Indro Warkop). Kamar-kamar non AC dengan kipas dibanderol seharga Rp. 200.000 sampai Rp. 125.000/malam, ini kamar yang paling murah. Wah, udah jadi daerah turis sih, pantes saja sudah tidak ada penginapan dan homestay yang harganya kurang dari Rp. 100.000/malam.

Referensi lainnya :




Other hotels in Yogyakarta:

co branding with